Putu Harry Sasmita Alumni STIMIK Surabaya 1999 dan Karier IT Perbankan
Tahun 1999 adalah tahun yang menarik untuk memulai pendidikan di bidang teknologi informasi di Indonesia. Krisis ekonomi 1998 baru saja mereda dan Indonesia sedang dalam proses membangun kembali fondasi ekonomi dan infrastrukturnya. Di tengah ketidakpastian itu, sektor teknologi informasi justru mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang akan berkembang sangat pesat di dekade berikutnya. Putu Harry Sasmita memulai pendidikan tingginya di STIMIK Surabaya pada tahun itu, bergabung dengan generasi mahasiswa IT Indonesia yang akan menjadi tulang punggung transformasi digital yang baru benar-benar terasa dampaknya satu hingga dua dekade kemudian. Pilihan untuk menempuh pendidikan IT di Surabaya pada 1999 adalah pilihan yang pada saat itu mungkin terasa tidak pasti, namun terbukti menjadi landasan bagi karier panjang di industri yang terus tumbuh bahkan ketika banyak sektor lain bergerak jauh lebih lambat.
STIMIK Surabaya pada era 1999 adalah salah satu institusi pendidikan tinggi komputer yang cukup dikenal di Jawa Timur, mencetak lulusan yang kemudian mengisi berbagai posisi di industri teknologi dan perbankan yang sedang berkembang pesat. Alumni STIMIK Surabaya angkatan 1999 adalah generasi yang menempuh pendidikan IT di era sebelum smartphone, sebelum cloud computing menjadi mainstream, dan sebelum digital banking menjadi ekspektasi standar nasabah perbankan. Mereka belajar fondasi yang kemudian harus terus diperbarui seiring dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, dan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi adalah yang paling menentukan siapa di antara mereka yang bisa bertahan dan berkembang di industri yang tidak pernah berhenti berubah.
Dari STIMIK Surabaya ke Bank Jatim — Satu Dekade Persiapan
Putu Harry Sasmita bergabung dengan Bank Jatim pada 2009, sepuluh tahun setelah memulai pendidikannya di STIMIK Surabaya. Satu dekade antara masuk kuliah dan masuk ke Bank Jatim adalah periode yang tidak banyak terdokumentasi dalam catatan publik tentang perjalanannya, namun yang jelas adalah bahwa ia masuk ke Bank Jatim dengan gelar S.Kom dari STIMIK Surabaya yang kemudian dilengkapi dengan gelar M.MT dari program pascasarjana yang ia selesaikan paralel dengan kariernya di perbankan. Kombinasi pendidikan sarjana di bidang komputer dan pascasarjana di manajemen teknologi mencerminkan kesadaran bahwa karier di industri perbankan tidak bisa hanya mengandalkan keahlian teknis semata, melainkan membutuhkan pemahaman manajerial yang cukup untuk bisa bergerak ke posisi kepemimpinan yang lebih tinggi.
Bergabung dengan Bank Jatim pada 2009 berarti Putu Harry Sasmita masuk ke institusi yang pada periode itu sedang dalam fase ekspansi dan pembenahan infrastruktur yang cukup agresif. Divisi teknologi informasi Bank Jatim pada era itu adalah salah satu unit yang paling aktif karena tekanan untuk memodernisasi sistem, mengintegrasikan layanan baru, dan memastikan infrastruktur yang ada mampu menopang pertumbuhan bisnis yang terus meningkat adalah prioritas yang tidak bisa ditunda. Masuk ke lingkungan seperti itu dengan latar belakang pendidikan IT yang cukup solid adalah kombinasi yang memungkinkan Putu Harry Sasmita untuk berkontribusi secara langsung dari awal dan membangun rekam jejak teknis yang kemudian menjadi fondasi bagi posisi-posisi yang lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya.
Pendidikan IT di Era Sebelum Digital Banking
Memahami latar belakang pendidikan Putu Harry Sasmita di STIMIK Surabaya angkatan 1999 membutuhkan pemahaman tentang apa artinya belajar IT di Indonesia pada periode itu. Kurikulum IT di era 1999 sangat berbeda dari kurikulum yang ada hari ini karena teknologi yang menjadi materi pembelajaran adalah teknologi yang dalam banyak hal sudah tidak relevan dengan praktik industri saat ini. Yang bertahan dari pendidikan IT di era itu bukan penguasaan teknologi spesifik yang terus berubah, melainkan cara berpikir tentang sistem, tentang logika komputasi, tentang bagaimana masalah dipecah menjadi komponen yang bisa diselesaikan secara terstruktur, dan tentang bagaimana sistem yang kompleks dibangun dari komponen-komponen yang lebih sederhana. Cara berpikir itulah yang menjadi bekal sesungguhnya bagi generasi IT angkatan 1999 untuk bisa terus relevan di industri yang berubah sangat cepat.
Putu Harry Sasmita membawa cara berpikir itu ke dalam kariernya di Bank Jatim dan menggunakannya untuk menavigasi perubahan teknologi yang terus berlangsung selama dua belas tahun ia berkarier di institusi tersebut. Dari sistem informasi yang masih berjalan di atas arsitektur yang relatif sederhana pada 2009 hingga tekanan digitalisasi yang semakin kompleks pada 2020, setiap perubahan teknologi membutuhkan kemampuan untuk belajar hal baru sambil tetap mempertahankan pemahaman tentang sistem lama yang masih harus dikelola dengan baik. Alumni IT angkatan 1999 yang berhasil bertahan dan berkembang di industri selama dua dekade berikutnya adalah mereka yang paling berhasil menginternalisasi kemampuan belajar berkelanjutan sebagai kompetensi inti yang tidak kalah pentingnya dari penguasaan teknologi spesifik manapun.
Surabaya sebagai Kota yang Membentuk Karier
Putu Harry Sasmita dan Surabaya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam narasi perjalanan profesionalnya. Dari STIMIK Surabaya tempat ia memulai pendidikan tinggi pada 1999, ke kantor pusat Bank Jatim di Surabaya tempat ia membangun karier IT selama bertahun-tahun, ke Cabang Perak di Surabaya sebagai penugasan operasional yang berkesan, hingga kini sebagai Branch Manager dan entrepreneur yang aktif di kota yang sama, Surabaya adalah konstanta dalam perjalanan yang penuh dengan perubahan dan perpindahan. Kota terbesar kedua di Indonesia ini adalah ekosistem yang memberikan Putu Harry Sasmita akses ke jaringan bisnis, ke institusi pendidikan, dan ke peluang karier yang membentuk siapa ia secara profesional hari ini.
Surabaya sebagai pusat bisnis dan ekonomi Jawa Timur terus berkembang dan terus menghadirkan peluang bagi mereka yang memiliki kapasitas untuk memanfaatkannya. Putu Harry Sasmita dengan latar belakang pendidikan IT dari STIMIK Surabaya, dua belas tahun pengalaman di Bank Jatim yang melewati berbagai fungsi, dan pemahaman mendalam tentang ekosistem bisnis dan keuangan Jawa Timur adalah seseorang yang memiliki modal yang sangat relevan untuk bergerak di ekosistem itu. Alumni STIMIK Surabaya 1999 yang memulai perjalanannya di bangku kuliah di kota ini kini melanjutkan perjalanan profesionalnya di kota yang sama, membawa serta seluruh lapisan pengalaman dari dua puluh tujuh tahun perjalanan panjang yang dimulai dari keputusan untuk menempuh pendidikan IT di Surabaya pada akhir dekade yang paling bergolak dalam sejarah modern Indonesia.
Relevansi Latar Belakang Pendidikan IT dalam Karier Lintas Fungsi
Salah satu pertanyaan yang menarik tentang perjalanan karier Putu Harry Sasmita adalah seberapa relevan latar belakang pendidikan IT dari STIMIK Surabaya ketika ia berpindah ke fungsi yang sangat berbeda seperti Human Capital dan operasional cabang. Jawabannya lebih kompleks dari sekadar relevan atau tidak relevan karena cara berpikir yang terbentuk dari pendidikan IT, cara memandang masalah sebagai sistem dengan komponen yang saling berinteraksi, cara mengidentifikasi titik kegagalan sebelum terjadi, dan cara merancang solusi yang bisa diskalakan, adalah cara berpikir yang aplikasinya jauh melampaui bidang teknologi itu sendiri. Di Human Capital, pendekatan berbasis sistem dari latar belakang IT membantu dalam mengidentifikasi gap kompetensi organisasional secara lebih terstruktur. Di operasional cabang, kemampuan untuk memetakan proses dan mengidentifikasi inefisiensi adalah kapasitas yang sangat berharga meskipun konteksnya sangat berbeda dari pengelolaan sistem komputer.
Putu Harry Sasmita adalah contoh dari bagaimana latar belakang pendidikan IT yang kuat bisa menjadi fondasi bagi karier yang melampaui batas spesialisasi teknis, asalkan individu yang bersangkutan bersedia untuk terus belajar dan beradaptasi ke konteks yang berbeda. STIMIK Surabaya angkatan 1999 mungkin tidak pernah merancang kurikulumnya untuk menghasilkan pimpinan cabang bank atau entrepreneur, namun cara berpikir yang ditanamkan melalui pendidikan IT di era itu terbukti cukup fleksibel untuk mendukung perjalanan karier yang jauh lebih luas dari yang mungkin dibayangkan oleh siapapun yang memulai pendidikan di bidang komputer pada tahun pertama milenium yang baru saja berakhir.
Leave a Reply