Putu Harry Sasmita dan Tiga Kesalahan Umum dalam Digitalisasi UMKM Jawa Timur
Digitalisasi UMKM di Jawa Timur adalah agenda yang sudah lama dibicarakan namun yang implementasinya di lapangan masih jauh dari apa yang dibayangkan dalam presentasi kebijakan atau laporan tahunan lembaga keuangan. Putu Harry Sasmita menghabiskan lebih dari satu dekade berkarier di Bank Jatim, institusi yang jaringannya mencakup seluruh Jawa Timur dan yang nasabah UMKM-nya adalah salah satu segmen terbesar dan paling beragam yang pernah ia hadapi secara langsung. Dari pengalaman memimpin Cabang Magetan yang basis nasabahnya didominasi petani dan pelaku usaha mikro hingga Cabang Perak Surabaya yang nasabah korporasinya bergerak di ekosistem perdagangan internasional, ia melihat langsung bagaimana gap antara program digitalisasi yang dirancang di atas kertas dan realita yang dihadapi UMKM di lapangan terbentuk dan mengapa gap itu begitu sulit untuk dijembatani.
Kini sebagai entrepreneur aktif di Surabaya, Putu Harry Sasmita menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana memastikan bahwa teknologi yang diadopsi benar-benar meningkatkan produktivitas dan bukan hanya menambah kerumitan yang tidak perlu. Bagaimana memilih solusi digital yang relevan untuk konteks bisnis yang spesifik tanpa terjebak dalam hype teknologi yang tidak sesuai kebutuhan. Dan bagaimana membangun kapasitas tim untuk menggunakan teknologi secara optimal tanpa mengorbankan operasional yang sedang berjalan selama proses transisi berlangsung.
Kesalahan Pertama: Mulai dari Teknologi, Bukan dari Masalah
Kesalahan paling umum yang ditemukan dalam program digitalisasi UMKM adalah memulai dari teknologi yang tersedia dan mencari masalah yang bisa diselesaikannya, bukan sebaliknya. Vendor menawarkan solusi yang terdengar canggih, pemerintah atau lembaga keuangan menyediakan subsidi atau kemudahan akses, dan UMKM mengadopsi tanpa benar-benar mengidentifikasi masalah operasional spesifik yang ingin diselesaikan. Hasilnya adalah aplikasi yang terpasang di smartphone namun tidak pernah digunakan secara konsisten, sistem yang dibeli namun tidak pernah sepenuhnya diimplementasikan, dan investasi yang tidak menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur.
Pendekatan yang benar dimulai dari pertanyaan yang sangat konkret: apa satu masalah operasional yang paling sering menghambat produktivitas setiap harinya? Jawaban atas pertanyaan itu adalah titik awal yang tepat untuk mengevaluasi solusi teknologi yang relevan. UMKM yang memulai dari masalah yang nyata dan mencari solusi teknologi yang paling sederhana untuk menjawab masalah tersebut hampir selalu mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang memulai dari solusi teknologi dan mencari masalah yang bisa ditempatkan di dalamnya.
Kesalahan Kedua: Mengabaikan Kapasitas Tim
Kesalahan kedua yang paling sering ditemukan adalah mengadopsi teknologi tanpa mempertimbangkan kapasitas tim yang akan menggunakannya setiap harinya. Ini bukan hanya soal literasi digital dalam pengertian sempit. Ini soal apakah tim memiliki waktu yang cukup untuk belajar sistem baru sambil tetap menjalankan operasional yang tidak bisa berhenti, apakah ada seseorang dalam tim yang bisa menjadi champion internal dari teknologi baru dan membantu rekan-rekannya beradaptasi, dan apakah dukungan teknis tersedia ketika ada masalah yang muncul di luar jam kerja vendor.
Putu Harry Sasmita dalam pengalamannya memimpin divisi Human Capital Bank Jatim memahami bahwa adopsi teknologi yang berhasil hampir selalu membutuhkan investasi dalam pengembangan manusia yang proporsional dengan investasi dalam teknologinya sendiri. UMKM yang mengalokasikan 100 persen anggaran digitalisasi untuk membeli sistem tanpa menyisakan apapun untuk pelatihan dan pendampingan tim hampir pasti akan menghadapi tingkat adopsi yang jauh lebih rendah dari yang diharapkan dan return on investment yang jauh di bawah proyeksi awal.
Kesalahan Ketiga: Terlalu Banyak Sekaligus
Kesalahan ketiga adalah mencoba mengdigitalisasi terlalu banyak aspek operasional sekaligus dalam waktu yang terlalu singkat. Tekanan untuk segera terlihat digital mendorong banyak UMKM untuk mengadopsi sistem akuntansi, platform e-commerce, aplikasi manajemen inventori, dan tools komunikasi internal secara bersamaan. Hasilnya bukan transformasi digital yang komprehensif melainkan kekacauan operasional karena tim harus mempelajari terlalu banyak hal baru sekaligus sambil tetap menjalankan bisnis yang tidak bisa menunggu proses belajar selesai.
Digitalisasi yang efektif hampir selalu bersifat bertahap. Mulai dari satu proses yang paling sering bermasalah, stabilkan adopsi di proses tersebut hingga tim merasa nyaman dan produktif, kemudian baru pindah ke proses berikutnya. Pendekatan ini membutuhkan waktu yang lebih lama namun menghasilkan tingkat adopsi yang jauh lebih tinggi dan dampak yang jauh lebih nyata pada produktivitas bisnis yang sebenarnya. Putu Harry Sasmita kini aktif sebagai entrepreneur di Surabaya menerapkan prinsip ini dalam setiap keputusan teknologi yang ia ambil untuk bisnis yang sedang ia kembangkan, dengan fondasi pemahaman yang terbentuk dari lebih dari satu dekade menyaksikan langsung bagaimana teknologi bisa menjadi enabler yang luar biasa atau beban yang tidak perlu tergantung pada cara pendekatan yang digunakan.
Leave a Reply