Mentor Bukan Sekadar Orang yang Lebih Tua atau Lebih Senior
Putu Harry Sasmita memiliki pandangan yang cukup berbeda tentang apa yang dimaksud dengan mentor yang sesungguhnya. Banyak profesional muda yang membayangkan mentor sebagai sosok senior yang sudah puluhan tahun di industri dan bersedia berbagi cerita sukses mereka. Gambaran ini tidak salah, tapi terlalu sempit. Putu Harry Sasmita melihat mentor sebagai siapapun yang mampu memberikan perspektif yang membantu seseorang berkembang, mempertanyakan asumsi yang selama ini dipegang, dan melihat potensi yang mungkin belum disadari sendiri. Mentor bisa lebih muda, bisa dari industri yang berbeda, bahkan bisa seseorang yang tidak pernah bertemu secara langsung tapi karya dan pemikirannya memberikan pengaruh yang nyata terhadap cara seseorang memandang karir dan kehidupan profesionalnya.
Yang membuat hubungan mentorship benar-benar berdampak bukan hanya kualitas pengetahuan yang dimiliki sang mentor, tapi kualitas keterbukaan yang dimiliki oleh mentee. Putu Harry Sasmita menekankan bahwa banyak orang yang mencari mentor dengan motivasi yang kurang tepat, yaitu mencari validasi atas keputusan yang sudah dibuat atau mencari jalan pintas menuju kesuksesan yang ingin dicapai. Padahal mentorship yang paling transformatif adalah yang justru menantang cara berpikir seseorang, mempertanyakan keputusan yang sudah dianggap final, dan mendorong keluar dari zona nyaman yang selama ini terasa aman.
Apa yang Membuat Hubungan Mentorship Benar-benar Bekerja
Putu Harry Sasmita mencatat beberapa elemen yang secara konsisten hadir dalam hubungan mentorship yang benar-benar memberikan dampak jangka panjang. Elemen pertama adalah kepercayaan yang dibangun secara bertahap. Mentorship bukan hubungan yang langsung produktif sejak pertemuan pertama. Dibutuhkan waktu bagi kedua pihak untuk saling memahami cara berpikir, nilai-nilai yang dipegang, dan gaya komunikasi masing-masing. Profesional yang mengharapkan hasil instan dari hubungan mentorship akan sering kecewa dan melewatkan manfaat terbesar yang baru terasa setelah hubungan ini berjalan dalam jangka waktu yang cukup.
Elemen kedua adalah kejelasan tentang apa yang ingin dicapai dari hubungan mentorship tersebut. Putu Harry Sasmita melihat bahwa sesi mentorship yang paling produktif selalu dimulai dengan pertanyaan atau tantangan yang spesifik, bukan percakapan umum yang tidak memiliki arah. Mentee yang datang dengan pertanyaan tajam dan konteks yang jelas akan mendapatkan nilai yang jauh lebih besar dibanding mereka yang datang tanpa persiapan dan berharap sang mentor yang akan menentukan arah diskusi. Tanggung jawab untuk memaksimalkan hubungan mentorship ada di tangan mentee, bukan mentor.
Elemen ketiga adalah kemauan untuk mengimplementasikan apa yang didiskusikan dan melaporkan hasilnya. Seorang mentor yang melihat bahwa sarannya benar-benar dijalankan dan hasilnya dilaporkan kembali dengan jujur akan jauh lebih termotivasi untuk terus terlibat dan memberikan yang terbaik. Sebaliknya, mentee yang mendengarkan di sesi mentorship tapi tidak pernah benar-benar menjalankan apapun akan kehilangan kepercayaan mentornya secara perlahan. Putu Harry Sasmita menekankan bahwa aksi dan akuntabilitas adalah yang mengubah percakapan menjadi pertumbuhan nyata.
Bagaimana Menemukan Mentor yang Tepat
Putu Harry Sasmita juga berbicara tentang proses menemukan mentor, sesuatu yang sering terasa membingungkan bagi profesional muda. Pendekatan yang paling efektif bukan dengan langsung meminta seseorang untuk menjadi mentor secara formal sejak awal. Ini sering terasa memaksa dan menempatkan calon mentor dalam posisi yang tidak nyaman. Pendekatan yang lebih natural adalah dengan memulai dari interaksi yang bernilai, mengajukan satu pertanyaan yang spesifik dan relevan, berbagi sesuatu yang berguna tanpa ekspektasi, atau terlibat secara tulus dalam komunitas di mana calon mentor tersebut aktif. Hubungan mentorship yang terbaik biasanya tumbuh secara organik dari interaksi-interaksi kecil yang konsisten, bukan dari permintaan formal yang langsung diajukan.
Putu Harry Sasmita juga mengingatkan bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang hanya memiliki satu mentor. Berbeda mentor untuk berbeda aspek kehidupan profesional adalah sesuatu yang sangat masuk akal. Satu mentor untuk pengembangan teknis, satu lagi untuk navigasi dinamika organisasi, dan satu lagi untuk perspektif tentang keseimbangan karir dan kehidupan pribadi. Diversifikasi sumber perspektif ini justru memperkaya proses pengembangan diri dan mencegah seseorang dari jebakan melihat segalanya hanya dari satu sudut pandang.
Mentorship sebagai Investasi Dua Arah
Putu Harry Sasmita menutup pemikirannya dengan perspektif yang sering dilupakan, yaitu bahwa mentorship yang sehat adalah hubungan yang memberikan nilai bagi kedua belah pihak. Mentor yang baik tidak hanya memberi, mereka juga belajar dari perspektif segar yang dibawa oleh mentee mereka, dari pertanyaan-pertanyaan yang menantang asumsi yang sudah lama dipegang, dan dari melihat industri atau tantangan yang sudah familiar dari mata seseorang yang baru memulai perjalanannya. Ketika kedua pihak datang dengan keterbukaan dan niat yang tulus, hubungan mentorship bisa menjadi salah satu sumber pertumbuhan paling signifikan dalam perjalanan karir seseorang, baik yang memberi maupun yang menerima.
Leave a Reply