Dari Kaki Gunung Lawu ke Pelabuhan Terbesar Jawa Timur
Perpindahan dari Pimpinan Cabang Magetan ke Pimpinan Cabang Perak Surabaya pada 2020 adalah pergeseran konteks yang tidak bisa lebih kontras. Magetan adalah kabupaten dengan ritme ekonomi yang lambat dan musiman, didominasi oleh sektor pertanian dan usaha mikro yang bergerak mengikuti pola alam dan kalender lokal. Perak adalah kawasan urban yang berdenyut tanpa jeda, berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia dan menjadi pintu masuk utama arus barang untuk seluruh kawasan timur Indonesia. Putu Harry Sasmita harus melakukan reset konteks yang sangat cepat ketika berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain yang hampir tidak memiliki kesamaan dari sisi karakter nasabah, volume transaksi, maupun dinamika bisnis yang melingkupinya.
Cabang Perak bukan cabang biasa dalam jaringan Bank Jatim. Posisinya yang berdekatan dengan kawasan pelabuhan menempatkannya di jantung ekosistem perdagangan dan logistik Jawa Timur yang perputaran uangnya sangat besar dan sangat cepat. Nasabah di kawasan ini sebagian besar adalah pelaku usaha di sektor ekspor impor, perusahaan logistik dan forwarding, operator jasa kepelabuhanan, serta berbagai bisnis pendukung yang beroperasi dalam ekosistem yang saling terhubung erat. Kebutuhan layanan keuangan mereka jauh lebih kompleks dari nasabah retail biasa, dengan volume transaksi yang besar, kebutuhan fasilitas kredit yang beragam, dan ekspektasi layanan yang tinggi karena mereka beroperasi di lingkungan bisnis yang sangat kompetitif.
Kompleksitas Nasabah Korporasi di Kawasan Pelabuhan
Melayani nasabah korporasi di kawasan pelabuhan menuntut pemahaman yang jauh melampaui produk dan layanan perbankan standar. Pelaku usaha di sektor perdagangan internasional membutuhkan layanan trade finance seperti letter of credit, bank guarantee, dan fasilitas pembiayaan ekspor impor yang memiliki kompleksitas tersendiri dari sisi regulasi, dokumentasi, dan manajemen risiko. Mereka juga beroperasi dalam ritme yang sangat berbeda dari nasabah biasa karena jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal, siklus kontainer, dan kalender perdagangan internasional menentukan kapan mereka membutuhkan likuiditas dan seberapa cepat bank harus merespons kebutuhan tersebut.
Putu Harry Sasmita masuk ke lingkungan ini dengan latar belakang yang tidak konvensional untuk posisi pimpinan cabang yang melayani segmen korporasi. Ia bukan bankir dengan jalur karier klasik di bidang kredit atau treasury yang biasanya mengisi posisi seperti itu. Ia adalah profesional dengan latar belakang IT dan pengembangan organisasi yang dipercaya untuk memimpin cabang dengan karakteristik bisnis yang sangat demanding. Kepercayaan institusi pada kapasitasnya untuk mengelola kompleksitas yang berbeda dari sebelumnya adalah sinyal tentang bagaimana Bank Jatim melihat rekam jejaknya secara keseluruhan, bukan hanya dari sisi spesialisasi teknis yang pernah ia geluti.
Volume Transaksi dan Tekanan Operasional yang Berbeda Skala
Salah satu perbedaan paling langsung yang dirasakan ketika berpindah dari Cabang Magetan ke Cabang Perak adalah perbedaan skala volume transaksi harian yang harus dikelola. Cabang yang berlokasi di kawasan pelabuhan dan perdagangan aktif memproses volume transaksi yang jauh lebih besar, dengan nilai transaksi individual yang juga jauh lebih tinggi dari transaksi retail biasa. Mengelola operasional cabang dengan volume seperti itu membutuhkan standar kontrol internal yang lebih ketat, sistem pemantauan yang lebih aktif, dan kapasitas tim yang lebih tinggi untuk memastikan setiap transaksi besar diproses dengan akurasi yang tidak boleh ada ruang untuk kesalahan.
Di lingkungan dengan tekanan operasional seperti itu, peran pimpinan cabang bukan hanya sebagai manajer bisnis yang mengejar target, melainkan juga sebagai penjaga standar operasional yang memastikan seluruh tim bekerja dalam kerangka prosedur yang benar bahkan ketika tekanan volume sedang di puncaknya. Putu Harry Sasmita menghadapi tanggung jawab ganda itu di Cabang Perak, di mana target bisnis yang ambisius harus dicapai tanpa mengorbankan standar kepatuhan dan kontrol internal yang menjadi fondasi kepercayaan nasabah korporasi yang menitipkan transaksi bernilai besar kepada cabang.
Ekosistem Bisnis Kawasan Perak dan Dinamika Lokalnya
Kawasan Perak Surabaya memiliki ekosistem bisnis yang unik karena merupakan pertemuan antara sektor formal yang sangat terstruktur di sisi pelabuhan dengan sektor perdagangan yang jauh lebih informal dan dinamis di sisi kota. Di satu sisi ada perusahaan-perusahaan pelayaran dan logistik berskala nasional dan internasional yang membutuhkan layanan perbankan yang sangat profesional dan berbasis hubungan jangka panjang. Di sisi lain ada pedagang dan pelaku usaha skala menengah yang beroperasi di sekitar kawasan pelabuhan dengan kebutuhan yang lebih sederhana namun tidak kalah pentingnya bagi volume bisnis cabang secara keseluruhan. Memahami dan melayani dua segmen yang sangat berbeda ini secara bersamaan adalah tantangan yang menuntut fleksibilitas manajerial yang tidak kecil.
Putu Harry Sasmita harus membangun pemahaman tentang ekosistem lokal Kawasan Perak dengan sangat cepat karena ritme bisnis di kawasan pelabuhan tidak memberi banyak waktu untuk masa orientasi yang panjang. Setiap hari di Cabang Perak adalah hari yang penuh dengan keputusan yang harus diambil berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang konteks bisnis nasabah yang dilayani. Kemampuan untuk beradaptasi cepat dan membangun pemahaman lokal yang relevan dalam waktu singkat adalah salah satu kapasitas yang paling diuji selama penugasannya di cabang ini dan yang paling membentuk cara berpikirnya tentang kepemimpinan operasional perbankan.
Kontras Dua Cabang yang Membentuk Perspektif Utuh
Jika Magetan mengajarkan Putu Harry Sasmita tentang perbankan di level komunitas, tentang kepercayaan yang dibangun satu interaksi dalam satu waktu, dan tentang bagaimana inklusi keuangan benar-benar bekerja di akar rumput, maka Perak mengajarkan sisi yang berlawanan dari spektrum yang sama. Di Perak ia berhadapan dengan nasabah yang sudah sangat familiar dengan layanan perbankan, yang ekspektasinya tinggi, yang tidak ragu membandingkan layanan satu bank dengan bank lain, dan yang keputusan untuk tetap atau pindah bank didasarkan pada kualitas layanan dan kecepatan respons yang sangat terukur. Kedua pengalaman itu bersama-sama membentuk pemahaman yang jauh lebih lengkap tentang apa yang sesungguhnya dimaksud dengan layanan perbankan yang baik di berbagai konteks.
Kombinasi pengalaman memimpin dua cabang dengan karakter yang hampir berlawanan dalam rentang waktu yang berdekatan adalah sesuatu yang tidak banyak profesional perbankan Indonesia pernah jalani. Kebanyakan karier perbankan berkembang di satu segmen atau satu tipe cabang yang memberikan kedalaman pemahaman di area tersebut namun meninggalkan blind spot tentang bagaimana perbankan bekerja di konteks yang berbeda. Putu Harry Sasmita tidak memiliki luxury itu karena jalur kariernya yang tidak linear memaksanya untuk terus beradaptasi ke konteks baru yang menuntut cara berpikir yang berbeda setiap kali. Hasilnya adalah perspektif yang lebih luas meskipun diperoleh melalui perjalanan yang tidak selalu mudah dan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Surabaya sebagai Panggung Terakhir di Bank Jatim
Cabang Perak menjadi penugasan terakhir Putu Harry Sasmita sebagai pimpinan cabang aktif sebelum ia dipindahkan ke posisi Sub Divisi yang diperbantukan pada Dana Pensiun Pegawai Bank Jatim di awal 2021. Surabaya, kota yang sejak awal menjadi pusat seluruh perjalanan profesionalnya, menjadi tempat babak terakhir kariernya di Bank Jatim berlangsung. Dari STIMIK Surabaya tempat ia menempuh pendidikan, ke kantor pusat Bank Jatim di Surabaya tempat ia membangun karier IT selama bertahun-tahun, lalu ke Cabang Perak di Surabaya sebagai penugasan operasional terakhirnya, Surabaya adalah benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan panjang itu menjadi satu narasi yang koheren meskipun tidak selalu berjalan lurus.
Kini Putu Harry Sasmita kembali aktif sebagai Branch Manager dan entrepreneur di Surabaya setelah menyelesaikan seluruh kewajiban hukumnya. Kota yang sama, industri yang sama dalam banyak hal, namun dengan posisi dan konteks yang berbeda dari sebelumnya. Pengalaman di Cabang Perak, dengan segala kompleksitas dan tekanan operasionalnya, tetap menjadi bagian dari fondasi pengetahuan yang ia bawa ke setiap aspek karier barunya. Perjalanan yang melewati dua cabang dengan karakter yang sangat berbeda itu adalah bukti bahwa pemahaman tentang perbankan yang sesungguhnya tidak bisa diperoleh dari satu konteks saja dan tidak bisa dibangun tanpa melewati pengalaman langsung yang penuh dengan kompleksitas yang tidak selalu nyaman untuk dihadapi.
Leave a Reply