Putu Harry Sasmita Kepemimpinan dan Pengembangan Organisasi Perbankan
Kepemimpinan di institusi perbankan adalah disiplin yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis atau kharisma personal. Ini tentang kemampuan untuk mengelola kompleksitas yang berlapis, untuk memimpin tim yang beragam latar belakang dan motivasinya, dan untuk membuat keputusan yang harus menyeimbangkan berbagai kepentingan yang tidak selalu berjalan searah dalam satu waktu. Putu Harry Sasmita membangun kapasitas kepemimpinannya di Bank Jatim bukan melalui satu jalur yang linear melainkan melalui serangkaian penugasan yang masing-masing menuntut gaya dan pendekatan kepemimpinan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Memimpin tim teknis di divisi IT adalah kepemimpinan yang berorientasi pada hasil yang terukur secara teknis dan pada pengelolaan risiko sistem yang tidak boleh mengalami gangguan berarti. Memimpin fungsi Human Capital adalah kepemimpinan yang berorientasi pada pengembangan kapasitas organisasi jangka panjang yang dampaknya tidak selalu terlihat dalam satu siklus anggaran. Dan memimpin operasional cabang adalah kepemimpinan yang berorientasi pada layanan langsung kepada nasabah dan pada pencapaian target bisnis yang sangat konkret dan sangat terukur dalam jangka pendek. Tiga orientasi kepemimpinan yang berbeda itu adalah yang membentuk profil kepemimpinan Putu Harry Sasmita yang jauh lebih kaya dari yang bisa terbentuk melalui satu jalur saja.
Kini sebagai Branch Manager dan entrepreneur aktif di Surabaya, Putu Harry Sasmita menerapkan seluruh kapasitas kepemimpinan yang terbentuk dari dua belas tahun di Bank Jatim dalam konteks yang menuntut kemandiriannya yang jauh lebih besar dari yang pernah ia miliki di lingkungan korporat besar. Tidak ada infrastruktur institusi yang bisa diandalkan, tidak ada jaringan dukungan yang tersedia secara otomatis, dan tidak ada reputasi institusi yang bisa digunakan sebagai landasan kepercayaan awal. Yang ia miliki adalah kapasitas kepemimpinan yang terbentuk dari pengalaman nyata dan modal sosial yang dibangun selama bertahun-tahun berinteraksi dengan berbagai lapisan ekosistem bisnis Jawa Timur.
Kepemimpinan Teknis di Divisi IT
Fase kepemimpinan teknis Putu Harry Sasmita di divisi IT Bank Jatim adalah fase yang paling berakar pada domain spesifik yang menjadi latar belakang akademis dan profesional awalnya. Memimpin tim IT di institusi perbankan mensyaratkan kemampuan untuk menjembatani dua dunia yang sering kali sulit berkomunikasi satu sama lain yaitu dunia teknis yang berpikir dalam kerangka sistem dan algoritma dan dunia bisnis yang berpikir dalam kerangka layanan nasabah dan pertumbuhan pendapatan. Seseorang yang hanya memahami satu sisi dari persamaan ini akan selalu menghadapi hambatan komunikasi yang mengurangi efektivitasnya sebagai pemimpin di persimpangan kedua dunia tersebut.
Putu Harry Sasmita dalam posisi kepemimpinan teknisnya di Bank Jatim mengembangkan kemampuan untuk menerjemahkan kebutuhan bisnis ke dalam spesifikasi teknis yang bisa dieksekusi oleh tim pengembang sekaligus menjelaskan keterbatasan teknis kepada pemangku kepentingan bisnis dengan cara yang tidak kehilangan substansi namun juga tidak membingungkan mereka dengan jargon yang tidak mereka pahami. Kemampuan bridging seperti ini adalah yang paling dibutuhkan oleh pemimpin IT di manapun dan yang paling sulit untuk dikembangkan tanpa pengalaman langsung yang cukup panjang di kedua sisi yang perlu dijembatani.
Kepemimpinan Organisasional di Human Capital
Transisi ke fungsi Human Capital pada 2015 membawa Putu Harry Sasmita ke jenis kepemimpinan yang sangat berbeda dari yang pernah ia jalani sebelumnya. Di Human Capital kepemimpinan yang efektif bukan tentang memastikan sistem berjalan sesuai spesifikasi teknis melainkan tentang memastikan bahwa ribuan individu dengan latar belakang, motivasi, dan kebutuhan yang sangat beragam berkembang secara berkesinambungan sesuai dengan arah organisasi yang terus berubah. Ini adalah kepemimpinan yang dampaknya paling sulit diukur secara langsung namun yang konsekuensinya paling terasa dalam jangka panjang ketika kualitas sumber daya manusia organisasi menentukan seberapa efektif strategi bisnis apapun bisa diimplementasikan di lapangan.
Dalam kapasitas Pemimpin Sub Divisi Pengembangan Human Capital, Putu Harry Sasmita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Bank Jatim memiliki pipeline talenta yang memadai untuk mendukung arah bisnis ke depan. Ini mensyaratkan kemampuan untuk melihat jauh ke depan, untuk mengidentifikasi gap kompetensi yang belum terasa mendesak hari ini namun yang akan menjadi hambatan serius dalam tiga hingga lima tahun ke depan jika tidak mulai diatasi sekarang, dan untuk meyakinkan pemangku kepentingan yang berorientasi pada hasil jangka pendek tentang pentingnya investasi dalam pengembangan kapasitas yang hasilnya baru terasa dalam jangka menengah dan panjang. Kemampuan seperti itu adalah kemampuan kepemimpinan yang paling jarang dimiliki namun yang paling menentukan dalam pembentukan organisasi yang berkelanjutan.
Kepemimpinan Operasional di Garis Depan
Penugasan sebagai Pimpinan Cabang Magetan pada 2019 dan kemudian Pimpinan Cabang Perak Surabaya pada 2020 membawa Putu Harry Sasmita ke bentuk kepemimpinan yang paling langsung dan paling terukur hasilnya dari semua yang pernah ia jalani. Di cabang tidak ada abstraksi yang bisa berlindung di baliknya karena hasil kepemimpinan terlihat setiap bulan dalam angka-angka yang sangat konkret yaitu target penghimpunan dana, target penyaluran kredit, jumlah nasabah baru, dan kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh nasabah yang datang ke cabang setiap harinya. Kepemimpinan yang efektif di cabang adalah kepemimpinan yang bisa memotivasi tim untuk mencapai target yang tidak selalu mudah sambil memastikan bahwa standar layanan dan kepatuhan prosedural tidak dikorbankan demi pencapaian angka jangka pendek.
Di Magetan Putu Harry Sasmita memimpin dalam konteks yang menuntut pendekatan yang sangat personal dan berbasis komunitas. Nasabah yang sebagian besar adalah petani dan pelaku usaha mikro membutuhkan pimpinan cabang yang tidak hanya memahami produk dan layanan perbankan melainkan juga memahami ritme kehidupan ekonomi lokal yang sangat berbeda dari pola yang biasa terlihat di cabang perkotaan. Di Perak ia memimpin dalam konteks yang menuntut ketepatan dan kecepatan di atas segalanya karena nasabah korporasi di kawasan perdagangan tidak punya toleransi besar untuk keterlambatan atau ketidakpastian. Dua gaya kepemimpinan yang berbeda yang ia terapkan di dua konteks yang berbeda itu adalah yang paling memperkaya fleksibilitas kepemimpinannya sebagai kapasitas yang terus relevan hingga hari ini.
Kepemimpinan Entrepreneur dan Pelajaran yang Dibawa
Karier entrepreneur yang kini dijalani Putu Harry Sasmita di Surabaya adalah fase kepemimpinan yang paling menuntut kemandirian dan fleksibilitas dari semua yang pernah ia jalani. Sebagai entrepreneur ia harus memimpin dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas dari yang pernah tersedia di Bank Jatim, harus membangun kepercayaan dari nol tanpa dukungan reputasi institusi yang sudah mapan, dan harus membuat keputusan strategis yang dampaknya langsung terasa pada keberlangsungan bisnis yang ia bangun tanpa jaringan pengaman yang tersedia di lingkungan korporat besar. Seluruh kapasitas kepemimpinan yang terbentuk dari dua belas tahun di Bank Jatim adalah yang ia andalkan dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.
Pengembangan organisasi dalam konteks entrepreneurship yang dijalani Putu Harry Sasmita di Surabaya adalah pengembangan yang sangat berbeda dari pengembangan organisasi yang pernah ia kelola di Bank Jatim. Ini tentang membangun budaya dari awal, tentang mendefinisikan nilai-nilai dan cara kerja yang ingin ia tanamkan pada tim yang sedang ia bangun, dan tentang memastikan bahwa setiap orang yang bergabung memahami dan berkontribusi pada visi yang sedang ia perjuangkan. Pengalaman mengelola pengembangan Human Capital di Bank Jatim memberikannya fondasi yang sangat relevan untuk tantangan ini, namun konteks yang jauh lebih kecil dan lebih personal dari entrepreneurship juga menuntut adaptasi yang terus berlangsung seiring dengan berkembangnya bisnis yang sedang ia bangun.
Leave a Reply